Selasa, 19 Maret 2013

TAKLUK DALAM MIMPI


IIS HERNISYAH BR. GINTING

Desah nafas itu kian memburu, menyesak dalam pekat, bagaikan serdadu tempur, melihat musuh mengacungkan senapan di depan mata. Bukan hanya nafas saja hampir berhenti, tapi degup jantungpun mulai letih memompa darah ke seluruh tubuh. Mata terpejam dan sulit untuk membuka tabir-tabir dunia nyata. Kejadiaan itu, sesaat membuat terbuka mata batin dan pikiran yang selama ini tertutup awan gelap yang menghembuskan surga duniawi. Semua itu sebenarnya fana belaka, satu hembusan saja bisa berubah membalikkan semuanya pada kehidupan yang kekal.
Jeritan dan tangisan kaum tertindas kini menggema ditelinganya. Tangan-tangan itu menengadah di tepi-tepi jalan dan trotoar, tempat itu sebenarnya bukan tempat yang pantas untuk mereka. Baju yang dikenakan tak berwarna lagi dan hanya dihiasi oleh hiasan-hiasan dan goresan-goresan kepiluan yang coklat warnanya.
Kusam, kata itu sering terdengar dari salah seorang ketika melintas dihadapan mereka, tapi apa daya mereka yang tak bisa berbuat apa-apa, hanya doa saja yang bisa terus menggema. Sebenarnya dunia ini yang tidak adil bagi mereka atau seseorang yang memberikan ketidakadilan kepada mereka? Kalimat itu sebenarnya selalu disimpannya erat-erat dalam hati mereka, ketika kebisuaan dan kebobrokan moral menguasai sekelompok orang.
Tangan kecil itu menggenggam sebuah asa yang terbalut mimpi. Terbalut bukan berarti tak terkuasai, tapi hanya tangan tak sampai  untuk menggapainya. Sepanjang  jalan kota itu telah lelah ditelusurinya, hanya menggunakan sandal jepit yang sebenarnya sudah tak layak pakai lagi. Disudut trotoar kini anak kecil itu terduduk, melihat beberapa orangtua yang mengantar anaknya pergi ke sekolah. Kini sorotan matanya hanya tertuju pada satu titik, pandangannya semakin difokuskan lagi seperti ada sesuatu yang menarik perhatiaanya. Matanya sekarang mengatur otak untuk menggerakkan tubuh, tubuhnya bergerak mengikuti seorang anak yang menggedong tas itu.
Sesampainya di sekolah orangtua dari anak kecil itu, mengantarnya hanya sampai gerbang sekolah, lalu berlalu pergi. Anak kecil yang tadi diantar oleh orangtuanya, menyadari bahwa ada seseorang yang mengikutinya dari tadi. Tak langsung masuk, anak kecil itu menoleh kebelakang dan menyapa anak yang mengikutinya dari tadi.
“Hai,…” sambil melambaikan tangannya.
Anak kecil yang dari tadi mengikutinya hanya bisa terdiam.
Melihat respon yang pasif, kini Dandi mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan.
“Nama aku Dandi, dan kamu?”
Anak kecil yang mengikuti Dandi merasa kebingungan. Dandi menggerak-gerakkan tangannya, “Hai,… aku didepanmu!”
“Ha, maksud kamu, aku?”
“Iya, sobat! Aku ingin berkenalan denganmu!”
“Berkenalan denganku!” jawab anak kecil itu sambil menunjuk dirinya.
“Iya, apakah salah jika aku mengetahui namamu sobat?”
“Ha,…” anak kecil itu, samakin kebingungan dan memperhatikan bajunya yang sudah tak dicucinya salama berhari-hari dan melihat kembali baju Dandi yang bersih dan rapih diseterika.
“Kenapa kamu diam, apakah kamu tidak mau berkenalan denganku sobat?”
“Tidak, bukan begitu!”
“Lalu apa? Apakah kamu takut berkenalan denganku karena rupaku yang buruk!”
“Bukan karena itu, tapi kebanyakan anak-anak orang kaya sepertimu, merasa jijik jika berkenalan dengan anak seperti aku.”
“Kenapa, kok kamu berbicara seperti itu?”
“Apakah kamu tidak melihat, bajuku kotor dan bau karena keringat serta tak ku ganti selama beberapa hari?”
“Jadi karena itu, kamu berfikir aku tidak mau berteman denganmu?”
“Yah, bukan hanya itu, tapi kita berbeda.”
“Berbeda?”
“Iya kita berbeda!”
“Berbeda dari apanya?”
“Dari latar bekang keluarga.”
“Maksud kamu apa?”
“Maksud aku, kamu dari keluarga yang kaya raya, sedangkan aku, untuk makanpun kami susah dan sekolah pun orangtuaku tak mampu membiayai aku.”
“Hai, sobat! Tuhan tak pernah membedakan kita dari tingkatan harta.”
“Sudahlah, kamu tak usah menghiburku!.”
“Kok, kamu berkata seperti itu?”
“Kenapa aku tidak boleh berkata seperti itu? Bukannya semua anak orang kaya itu angkuh dan sombong?”
“Sobat, kamu jangan berkata seperti itu, tidak semua anak orang kaya itu angkuh dan kata bunda semua manusia itu sama dimata Tuhan.”
“Bunda?”
“Iya kata bunda seperti itu!”
“Bunda itu siapa?”
“Bunda itu ibu kandung aku!”
“Ibu?”
“Iya, ibu yang selalu menjaga dan mengajari aku untuk tidak bergaul membeda-bedakan teman.”
Anak kecil itu tiba-tiba terdiam tapi terdiam bukan berarti tidak ada yang dipikirkan, akan tetapi terdiam merenungkan kata yang diucapkan oleh Dandi.
Bel sekolah kini berdering, pertanda waktunya untuk masuk kedalam kelas. Dandi yang tak ingin terlambat, hanya bisa berbicara sedikit kepada anak kecil yang tadi bersamanya dan memberikan sebuah buku dan bulpoint.
“Sobat, maafkan aku! Bukannya aku tidak mau bermain denganmu tapi kata bunda kalau bel sudah berbunyi aku harus masuk. Tapi jangan khawatir nanti kalau bel istirahat aku kesini lagi dan ini ada buku dan alat tulis untuk kamu menulis.”
Anak kecil itu masih terdiam dan Dandi berlalu pergi meninggalkan anak kecil itu. Setelah Dandi berlalu pergi, satpam menutup pintu gerbang sekolah. Anak kecil itu juga masih terdiam akan tetapi anak kecil itu menerunungkan satu kata yang tadi diucapkan oleh Dandi. Kata itu membuat dia teringat akan suatu peristiwa dimana, sewaktu usia 7 tahun ia pernah juga mengikuti seorang anak kecil yang usianya tak jauh beda dengan Dandi. Anak kecil yang diikutinya itu termasuk anak dari keluarga mapan.
“Hai,... nama aku Haris dan kamu?” sapa Haris, sambil mengulurkan tangannya sebagai salam perkenalan.
“Hai, kata kamu?” jawab anak kecil yang diikutinya tadi.
“Iya, apakah kita bisa berteman?”
“Berteman dengan siapa?”
“Aku ingin berteman dengan kamu.”
“Ha,…”
“Kenapa?”
“Berteman kata kamu?”
“Iya, apakah salah jika aku mau berteman denganmu? Nantikan kita bisa saling berbagi ilmu!”
            “Ilmu?”
            “Iya, kata sebuah majalah yang kudapat di jalanan, disana tertulis buku adalah jendela dunia.”
            “Jadi apa kaitannya dengan aku?”
            “Iya memang mungkin menurut kamu itu tidak ada kaitannya denganmu. Tapi kamu memiliki banyak buku dan kita bisa berbagi pengetahuan.”
            “Aku memang memiliki banyak buku, tapi itu bukan berarti aku harus berbagi denganmu!”
            “Kenapa? Apakah karena kamu takut kalau nanti aku pinjam buku kamu tidak aku kembalikan?”
            “Hai, kamu itu bodoh atau di rumah kamu tidak memiliki kaca?”
            “Iya, memang aku merasa diri aku belum pintar, jadi aku mau belajar. Tapi untuk makanpun orangtuaku tak bisa mencukupinya apalagi untuk membeli sebuah buku dan menyekolahkan aku, jadi bolehkan kita belajar bersama? Jika kamu setuju, aku akan setiap hari menunggumu di depan gerbang ini.”
            “Menunggu aku katamu?”
            “Iya, aku akan setiap hari menunggumu di depan gerbang ini, sebelum dan sesudah bel berbunyi pertanda kamu bisa pulang.”
            “Untuk apa kamu menunggu aku?”
            “Aku ingin membaca buku yang kamu pelajari dan setelah kamu pulang, aku akan mengembalikannya kepadamu.”
            “Ha, kamu mau pinjam buku aku?”
            “Iya,… boleh kah aku meminjamnya?
            “Hei, apakah kamu berpikir buku ini murah harganya ya?”
“Tidak, justru karena harganya yang mahal dan aku tidak bisa membelinya makanya aku ingin meminjamnya darimu.”
“Jadi kau pikir aku akan meminjamkan buku semahal ini kepada gembel sepertimu!”
“Walaupun kamu berkata seperti itu tapi aku juga sama sepertimu, ingin menuntut ilmu sepertimu dan seperti anak-anak pada umumnya seusiaku.”
“He, kamu itu gembel! Jadi kamu tidak pantas menuntut ilmu apalagi meminjam bukuku yang mahal ini!”
“Baiklah kalau kamu tidak bisa meminjamkan bukumu yang sedang kamu pakai sekarang, karena takut rusak. Bolehkah aku meminjam bukumu yang sudah tidak kamu pakai lagi dan kita juga bisa berteman.”
“Berteman dengan gembel sepertimu?”
“Iya, apakah salah jika berteman?”
“Hei, lebih baik kamu bercermin dulu! Apakah kamu tidak melihat baju kamu kotor, muka kamu kusam dan dengan penampilan seperti itu kamu ingin berteman dengan aku?”
“Tapi,…” mata Haris mulai berkaca-kaca.
“Tapi apa? Kamu mau katakan kita sama!”
“Iya, kawan! Semua manusia itu sama dan memiliki keinginan yang sama.”
“Sama katamu! Apakah mata kamu tidak lagi berfungsi dengan baik?”
“Mata aku masih berfungsi dengan baik kawan!”
“Jadi kalau memang benar mata kamu masih berfungsi dengan baik coba kamu lihat dan bandingkan bajuku dengan bajumu!”
Tatapan mata Haris kini tertuju pada baju anak kecil yang dihadapannya, sekilas Haris memperhatikan baju anak kecil itu memang benar-benar bersih, rapih dan tak ada satu nodapun yang tergores di bajunya. Mata Haris kini berahli melihat bajunya dan memegang goresan tanah yang memang sudah 3 hari yang lalu melekat di bajunya. Haris masih terdiam memandangi bajunya yang kotor tapi anak kecil itu tak mau tinggal diam dan kembali mencaci Haris.
“Sudah kamu lihat kan? Betapa kotornya bajumu, apakah dengan penampilan seperti itu kamu masih mau berteman dengan aku.”
Haris tak bisa berkata apa-apa lagi dan hanya bisa terdiam tapi seketika itu lamunannya buyar, ketika Dandi datang menghampirinya.
“Hai, aku datang kembali untuk memenuhi janjiku kepadamu.”
Haris masih terdiam dan melihat Dandi dengan mata yang berkaca-kaca.
“Kamu kenapa sobat?” sambil menggerak-gerakkan tangannya di depan mata Haris.
Haris masih terdiam tapi begitu mendengar suara Dandi, Haris buru-buru menghapus air matanya.
“Kamu mengangis ya?”
Haris hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya.
“Hmmm, kamu merasa sedih ya?”
“Ti,.. tidak kok!”
“Sobat,… kata bunda aku, jika seorang sahabat sedang bersedih ada baiknya ia menceritakan kesedihannya kepada sahabatnya!”
“Menceritakan?”
“Iya, kata bunda dengan bercerita kepada orang lain kita akan merasa lega dan mungkin akan sedikit terhibur.”
“Aku tidak sedih kok,…”
“Ayolah sobat, jangan bohongi diriku, karena itu sama juga membohongi dirimu dan Tuhan!”
“Baiklah, aku memang sedang bersedih,…”
“Kamu sedih kenapa? Apakah kamu tidak suka berkenalan dengan aku atau alat tulis yang kuberikan tidak bisa kamu pakai, karena terlalu murah atau jelek?”
“Tidak, aku malah sangat senang berkenalan dengan kamu dan mendapatkan alat tulis ini.”
“Jadi kamu senang berkenalan dengan aku.”
Haris menjawabnya dengan menganguk-anggukkan kepalanya.
“Lalu kalau kamu senang bisa berkenalan dengan aku, jadi mengapa kamu masih bersedih sobat?” air mata Dandi mulai menetes.
Tangan Haris yang tadinya memegang buku tapi karena melihat Dandi menangis, meletakkan bukunya dan mengusap air mata Dandi. Tangan Dandi memegang tangan Haris, tapi Haris terkejut lalu melepaskan tangannya dari tangan Dandi.
“Kenapa sobat?”
“Tidak, tidak apa-apa kok.”
“Lalu kenapa kamu melepaskan tanganmu dari tanganku?”
“Aku takut kalau kamu merasa risih dan jijik dengan tanganku?”
“Kok kamu bicara seperti itu?”
“Iya, apakah kamu tidak melihat tanganku kotor dan pasti banyak kumannya.”
“Hmmm, sepertinya tangan kamu tidak kotor!”
“Tapi,..”
“Tapi apalagi sobat, kamu mau katakan lagi kalau kita beda?”
“Tidak, tapi baju aku kotor dan tak bersih seperti pakaianmu!”
“Jadi karena itu, kamu takut kalau aku akan tidak mau berkenalan denganmu?”
“Iya,…”
“Tapi sobat semua manusia sama di mata Tuhan dan kata bunda aku yang membedakannya itu hanya ibadahnya dan tingkahlakunya. Tidak semua nanti manusia yang kaya akan kaya di akhirat malah bisa terbalik.”
“Terbalik?”
“Iya, kata bunda seperti itu!”
“Maksud kamu apa?”
“Kata bunda setiap manusia pada akhirnya akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang di titipkan oleh Tuhan, jadi semua ini hanya titipan.”
“Titipan?”
“Iya, titipan itu apakah bisa berguna untuk orang banyak atau hanya untuk dirinya sendiri.”
“Maksud kamu apa?”
“Misalnya saja ilmuku ini sobat, ilmu dan beberapa buku ini adalah titipan yang sewaktu-waktu akan bisa hilang jika Tuhan mengizinkannya.”
“Jadi maksud kamu, bisa berguna untuk orang banyak?”
“Yah, meskipun ilmu yang ku miliki tidak sebanyak ilmu yang ada di dunia ini. Tapi jika bisa berbagi denganmu, itu titipan yang berguna untuk orang banyak.”
“Jadi, kamu mau berbagi ilmu denganku?”
“Iya, kita bisa berbagi buku dan apa yang ku pelajari di sekolah akan kuberikan kepadamu untuk kamu baca dan kamu pelajari. Tapi ada satu syaratnya!”
“Syarat, apakah itu uang? Jika iya, aku tak bisa memenuhi persyaratan itu.”
“Tidak sobat.”
“Lalu apa?”
“Aku ingin kamu menjabat tanganku dan memberitahukan siapa namamu?”
“Benarkah, hanya itu syaratnya?”
“Iya sobat, setelah itu kita akan menjadi sahabat.”
Akhirnya Haris menjabat tangan Dandi, air mata yang tadinya menetes karena kekecewaan sekarang berubah menjadi rasa kebahagiaan akan persahabatan yang baru.
 

Jangan Sampai tak membaca Cinta Tak Berujung














Kamis, 14 Maret 2013

Aku Kehilanganmu

Baru kali ini ku merasa kehilangan kamu
saat kau tak ada di sini, di sampingku
bertahun-tahun aku jalani hidup denganmu
kini harus berakhir selamanya, selamanya

aku sedih tanpa dirimu
sedih tanpa pelukmu, sedih kehilanganmu

haruskah ku sudahi perasaanku padamu
tapi aku belum yakin aku bisa melupakanmu

aku sedih tanpa dirimu
sedih tanpa pelukmu, sedih kehilanganmu
 

apa kau dengar aku, mendengar tangisanku
aku di sini mengharapkan dirimu

aku sedih tanpa dirimu
sedih tanpa pelukmu, sedih kehilanganmu
aku mati tanpa dirimu
mati setiap hari, mati rasa ini
mati rasa ini, aku kehilanganmu